Typolog https://typolog.uph.edu Typography Dialogue Thu, 07 Apr 2022 03:24:48 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.1 https://typolog.uph.edu/wp-content/uploads/2024/04/cropped-Favicon-Typolog-2024-32x32.png Typolog https://typolog.uph.edu 32 32 Typolog 2022 Webinar 3: Typography Movement in Local Scene https://typolog.uph.edu/2022/04/07/typolog-2022-webinar-3-typography-movement-in-local-scene/ https://typolog.uph.edu/2022/04/07/typolog-2022-webinar-3-typography-movement-in-local-scene/#respond Thu, 07 Apr 2022 03:24:48 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=3161 Ditulis oleh Vania Sagita Lie, disunting oleh Helena Calista

Webinar ketiga dan terakhir pada Typolog 2022 ini dilaksanakan pada tanggal 1 April 2022. Webinar kali ini dibawakan oleh Deni Anggara (Degar) dan Ikhsan Praditya (Adit) dari Lokal Container.  Degar menjalankan studio tipografi digital bernama Degarism sekaligus menjadi desainer huruf di Lokal Container. Sedangkan, Adit menjalankan studio desain grafis bernama Burgoos Studio dan merupakan bagian dari Business Development & Public Relationship di Lokal Container.

Webinar ketiga ini membahas mengenai pergerakan tipografi lokal dan apa yang dilakukan Lokal Container. Seperti yang diketahui, ada berbagai macam pergerakan lokal seperti studio desain, institusi, teknologi, kultur, komunitas dan sebagainya. Keinginan Degar dan Adit untuk meningkatkan pergerakan lokal terhadap  tipografi inilah yang menghasilkan terbangunnya Lokal Container.

Lokal Container merupakan sebuah komunitas lokal yang berisikan font open-source yang dapat digunakan oleh umum secara gratis, mereka juga membuka kesempatan untuk  berkolaborasi dengan institusi dan juga memiliki arsipan-arsipan yang berorientasi pada pergerakan dan tokoh tipografi. 

Lokal Container dikatakan sebagai pergerakan tipografi karena mereka ingin tipografi turut berkontribusi terhadap pergerakan lokal ini.

“Pergerakan tipografi di Indonesia sebenarnya cukup banyak. Contohnya adalah acara typolog 2022 ini sendiri. Selain itu, majalah “Concept” dan “Babyboss”, baju-baju yang menggunakan tipografi, dan lainnya.”.

Deni Anggara (Degar), Typolog 2022

Media yang digunakan oleh Lokal Container adalah sebuah website yang mencakup berbagai macam kolaborasi dan hasil karya para desainer. Untuk Saat ini, font yang disediakan oleh Lokal Container adalah BDO Grotesk, Ciburial, LC Engine dan LC Mogi. Di bawah ini merupakan contoh penggunaan font dari Lokal Container.


Adapun beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan topik webinar kali ini: 

  1. Apakah membuat font susah, dan darimana kita bisa mempelajarinya?
  • (Degar) “Hal itu bersifat relatif, kalau suka pasti bisa. Kita juga bisa  belajar dari artikel luar dan aplikasi seperti cari cara pembuatan tipografi itu bagaimana”, kata Degar. 
  • (Adit) “Ketika ingin membuat font sebelum menggunakan software atau aplikasi, bisa menggunakan buku bergaris kotak terlebih dahulu untuk membuat dan mempelajari anatomi hurufnya.”, sarannya
  1. Apakah ada kesulitan yang dihadapi saat membuat font?
  • Degar mengatakan bahwa kalau menikmati prosesnya, kesulitan yang dihadapi tidak terlalu bermasalah baginya. Hanya saja proses seperti pembuatan kerning cukup memakan banyak waktu.
  1. Software apa saja yang bisa digunakan untuk membuat font? 
  • “Beberapa software seperti FontLab, Glyphs dan lainnya dapat digunakan dalam pembuatan font”, ujar Degar.
  1. Style typography di industri jaman sekarang itu bagaimana?
  • (Degar) “Jangan terpaku pada satu style kecuali dari keinginan klien sendiri inginnya bagaimana. Jadi coba eksplor sebanyak2nya karena banyak industri luar yang menjadikan tipografi sebagai poin berkarya”, saran Degar. 
  • (Adit) “Klien pasti punya request maka eksplorasi kita tidak bisa lepas dari keinginan mereka tapi bisa juga kita memberikan ide tipografi yang cocok untuk industri mereka.”, lanjut Adit terhadap pernyataan rekannya.
  1. Untuk project font biasanya dibuat untuk kebutuhan klien atau di jual di creative market ?
  • Font dari Lokal Container tidak dijual karena bersifat open-source dan bisa di unduh secara gratis. Namun, untuk mengapresiasi para desainer, Degar dan Adit mengajak siapapun yang menggunakan font mereka untuk men-tag atau mention instagram mereka sehingga semakin banyak orang yang bisa mengenal Lokal Container. 

“Ketika ingin berkarya, berkaryalah dengan maksimal.”

– Ikhsan Praditya, Typolog 2022

Demikian sesi webinar ketiga ini berakhir dan pada waktu inilah juara favorit sekaligus juara pemenang Call For Works 2022 diumumkan. Juara favorit tahun ini diraih oleh Tiara Kiatama dan Veronica Kristie. Sedangkan, untuk pemenang juara 1 dari setiap kategori dimenangkan oleh Muhamad Endito Pradhana untuk kategori type as image dan Jalu Anggita Putra untuk kategori experimental typography. Selamat kepada para pemenang dan jangan lupa untuk selalu berkarya!

Terima kasih kepada para narasumber, panitia dan peserta yang telah membuat acara Typolog 2022 ini berjalan dengan lancar. See you soon!

]]>
https://typolog.uph.edu/2022/04/07/typolog-2022-webinar-3-typography-movement-in-local-scene/feed/ 0
Typolog 2022 Webinar 2: Type Indonesia in Indonesia Traditional Script https://typolog.uph.edu/2022/03/08/typolog-2022-webinar-2-type-indonesia-in-indonesia-traditional-script/ https://typolog.uph.edu/2022/03/08/typolog-2022-webinar-2-type-indonesia-in-indonesia-traditional-script/#respond Tue, 08 Mar 2022 01:19:56 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=3075 Ditulis oleh: Vania Sagita Lie

Webinar ke 2 oleh Typolog 2022 ini dilaksanakan pada hari Jumat, 4 Maret 2022. Tema webinar kali ini adalah Type Indonesia in Indonesia Traditional Script yang dibawakan oleh Aditya Bayu Perdana. Beliau adalah seorang mahasiswa lulusan Universitas Parahyangan dengan gelar arsitektur  dan sekarang sedang melanjutkan studinya di Universitas Indonesia. Ia merupakan seorang tipografer yang mendalami tulisan aksara tradisional Indonesia, bahasa, sejarah dan budaya. 

Aditya membuka pembahasannya dengan mengatakan bahwa Indonesia kaya akan budaya, begitu juga dengan aksaranya. Sama seperti dengan webinar Typolog kali ini yang dihadiri oleh orang-orang dari dalam maupun luar UPH dengan latar belakang yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan yang sama, yakni mengenal aksara Indonesia. Perbedaan aksara-aksara pada setiap daerah digunakan untuk menunjukkan identitas daerah tersebut. Sayangnya, aksara Indonesia sudah tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kita bisa menemukannya di beberapa papan jalan tapi ukurannya relatif kecil. Banyak aksara yang digunakan di papan-papan itu juga memberikan pesan yang salah. Bahkan bentuk dari aksara malah dijadikan seperti huruf latin yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Secara materi, penulisan aksara tidak hanya menggunakan tinta namun juga ada yang diukir menggunakan pisau, komputer dan di cetak. Ini merupakan alasan lain mengapa aksara setiap daerah memiliki bentuk yang beragam. Sedangkan secara fungsinya, aksara pada zaman dahulu digunakan untuk menulis surat, buku, prasasti, koran, dan sebagainya. Pada tahun 1855, koran jawa menggunakan aksara dengan gaya blackletter.

Jaman sekarang, awareness terhadap aksara jawa sudah mulai meningkat terutama karena naskah aksara jawa tersedia dalam jumlah yang lebih banyak dibanding yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari brand-brand  yang mulai menggunakan aksara untuk produknya. Pada projek yang dilakukan oleh Aditya sendiri, beliau mendesain ulang brand-brand terkenal dan mengganti logonya menggunakan aksara Indonesia.

Webinar kali ini pun diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan, seperti apakah ada semacam kurikulum atau literatur supaya orang awam bisa mempelajari mengenai aksara dengan terstruktur? Bagaimana cara menyeimbangkan komposisi logo dengan aksara seperti pada projek yang dibuat oleh Aditya? Apakah Aditya memiliki aksara favorit dan sebagainya? Dengan begitu, Aditya pun menjawab semua pertanyaan yang diberikan.

Terima kasih kepada Aditya Bayu Perdana yang telah meluangkan waktunya untuk membahas topik yang sangat menarik ini. Terima kasih juga kepada para moderator dan semua panitia yang sudah merangkai acara ini dengan baik.


Q&A

Pertanyaan 1: Apakah ada semacam kurikulum atau literatur supaya orang awam bisa mempelajarinya dengan terstruktur? Apakah ada langkah-langkah dalam mempelajari aksara ini? 

  • Dengan berbagai media online atau cek di internet seperti blogs.bl.uk yang membahas mengenai manuskrip yang sudah di scan sehingga bisa dipelajari lebih mendalam. Selain itu juga bisa cari komunitas yang mempelajari aksara lewat telegram atau facebook. https://blogs.bl.uk/asian-and-african/bugis.html 

Pertanyaan 2: bagaimana cara menyeimbangkan logo dengan aksara nya seperti pada projek kak Aditya?

  • Hal yang perlu diperhatikan adalah harus melihat bagaimana aksara itu dibaca ( huruf c di inggris bisa disebutkan bbrp cara spt jadi huruf k/ch/s sedangkan di aksara hanya bisa menggunakan 1 seperi pada coca cola, kalau di aksara hanya bisa menggunakan huruf K)
  • Harus bisa tahu alternatfi aksaranya supaya tidak terlalu panjang. (mr robot -> mr nya tetap menggunakan latin, tapi robotnya baru menggunkan aksara. Hal ini supaya tidak terlalu panjang)

Pertanyaan 3: punya aksara favorit? Kenapa?

  • Secara bentuk, aksara lontara karena secara visual mudah dikenali walau banyak variasi. Selain itu ada aksara jawa karena mudah ditemukan. Biasanya tergantung sedang menelusuri aksara apa.

Pertanyaan 4: untuk aksara lampung seperti huruf K apakah kaitnya bisa di luruskan ke bawah dan untuk s bisa di keatasin ga?

  • Tergantung aksara lampung nya digunakan untuk apa. Bisa cek variasi aksara juga supaya tidak mendesain dengan buta/ mengira-ngira. 

Pertanyaan 5: sejarahnya gimana?

  • Aksara paling awal adalah aksara yang dibawa dari India namun di indonesia berevolusi menjadi aksara kawi yang kemudian berkembang lagi jadi aksara bali, jawa, dll. Selama prosesnya ini, dikarakterisasikan sesuai dengan daerah masing-masing.

]]>
https://typolog.uph.edu/2022/03/08/typolog-2022-webinar-2-type-indonesia-in-indonesia-traditional-script/feed/ 0
TYPOLOG 2022 WEBINAR 1: Vernacular and Type Design https://typolog.uph.edu/2022/02/02/typolog-2022-webinar-1-vernacular-and-type-design/ https://typolog.uph.edu/2022/02/02/typolog-2022-webinar-1-vernacular-and-type-design/#respond Tue, 01 Feb 2022 22:54:42 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2929 Ditulis oleh Dorothy Tanaka
Disunting oleh Helena Calista

Pada hari Jumat, 28 Januari 2022, Typolog kembali hadir dengan mengadakan webinar pertamanya di tahun 2022. Typolog ini merupakan lanjutan rangkaian kegiatan dari Typolog 2021. Pada sesi ini, kami mengundang dua narasumber yang merupakan dosen dan mahasiswi dari Universitas Pelita Harapan, yakni Brian Alvin Hananto, S.Sn., M.Ds. dan Fredella Agatha. Pada acara ini kami juga ditemani oleh kedua moderator kami Frederick Christoper dan Medelyn Aurellia.

Diawali dengan topik webinar yang pertama pada Typolog 2022, Vernacular and Type Design yang dibawakan oleh Brian dan dilanjutkan oleh Fredella. Namun, Frederick dan Medelyn, selaku moderator pada webinar 1 mengawali acara ini dengan sebuah pengertian Typolog; Typolog merupakan singkatan dari Typography Dialogue yang memiliki arti kegiatan yang bertujuan untuk membuka ruang-ruang diskusi mengenai keilmuan tipografi.

Pada webinar yang pertama ini, topik yang dibawakan oleh Brian merupakan salah satu materi, metode atau tahapan untuk merancang sebuah display typeface berdasarkan studi vernacular atau objek vernacular ditambah materi dari kelas tipografi eksperimental. Dalam pembahasan ini, Brian memperkenalkan istilah vernacular dan desain-desain vernacular, dikaitkan dengan desain huruf. 

“Mengapa vernacular dan vernacular design itu krusial bagi kita?”, merupakan pertanyaan yang dilontarkan Brian. Kata vernacular berasal dari verna atau vernaculus. Vernacular sering dipahami sebagai sesuatu yang spesifik dari sebuah daerah, kerap dianggap sebagai sesuatu yang pure tanpa ada pengaruh eksternal, dan kerap disebut sebagai idiom dari sebuah country. Brian juga menjelaskan contoh-contoh vernacular di kehidupan sehari-hari. Seperti dalam arsitektur, bangunan igloo. “Mengapa ini menjadi sesuatu yang vernacular?”,  hal ini karena dari cara dan material yang digunakan oleh orang eskimo untuk membuat igloo itu memang khas hanya dimiliki mereka.

Menurut pandangan Brian, dalam memahami vernacular, bukan fokus terhadap desain atau objek saja. Untuk bisa memahami esensi, perlu melihat materi atau objek yang dikerjain, jangan fokus terhadap yang terlihat saja. Skema berpikir yang digunakan di Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan, bahwa ketika berbicara desain, pastinya berbicara mengenai rupa, tentang konten atau makna, dan juga mempelajari mengenai lingkup atau konteks. Sebuah desain tidak akan bisa dipahami tanpa melihat konten, konten tidak bisa lepas dari konteks, dan konteks pasti akan mempengaruhi hasil desain. Maka dari itu 3 hal tersebut (bentuk, konten, konteks) saling berelasi.
Pembahasan ini kemudian dilanjutkan oleh Fredella yang merupakan mahasiswi Desain Komunikasi Visual UPH yang sedang menyelesaikan proyek tugas akhir dan skripsi di peminatan Desain Grafis. Di mana Ia akan showcase lebih detail tentang apa yang sudah dirancang. Ia menjelaskan mengapa Ia tertarik untuk mengambil tipografi vernakular sebagai topik tugas akhir dan skripsi. Fredella diberikan sebuah proyek untuk merancang satu set typeface dari A-Z. Yang kemudian dipilih adalah daerah Toraja.

Malangka merupakan salah satu showcase dari hasil akhir proyek. Fredella menjelaskan ada banyak font yang bentuknya lebih menarik, estetik, dinamik tetapi itu hanya melihat typeface tampak luar saja, tanpa tahu sebenarnya value dari typeface ada di bagian bawah, yaitu studi-studi, eksplorasi, riset-riset yang akhirnya membentuk identitas si typeface. Berbagai eksplorasi yang dilakukan Fredella membentuk typeface Malangka ini cerminan dari studi vernacular dan daerah Toraja. Dimana Toraja terletak di dataran tinggi, dan daerah tersebut mempunyai kepercayaan dimana mereka mempersepsikan struktur dewa-dewa leluhur mereka secara vertikal. Setelah mengenal Malangka, di dalam iceberg, value typeface malangka jadi lebih rich, bukan sekadar typeface-typeface yang fokus dibuat untuk kebutuhan estetis.

“Sebenarnya apa sih yang paling penting dibalik proses perancangan typeface vernacular”, tanya Fredella. Ia menjawab, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana typeface yang dirancang dapat merepresentasikan bentuk vernacular, bentuk yang khas dan yang melekat dari entitas yang dipilih. Yang dimana dalam konteks tersebut berarti typeface malangka dapat merepresentasikan bentuk vernacular dari daerah Toraja.

Fredella kemudian memutuskan untuk merancang typeface vernacular proyek perancangan Malangka dalam Pantjoran sebagai tugas akhir. Typeface Pantjoran entitas yang diambil merupakan salah satu daerah di Jakarta yaitu Pecinan Glodok. Salah satu alasan menurut Fredella yang membuat Glodok menarik ialah karena budaya tionghoa yang melekat sampai saat ini dan mempunyai bentuk akulturasi dengan budaya lokal Indonesia. Kemudian, Fredella melakukan analisis terhadap hal-hal yang khas dari Glodok, dan menggali lebih lagi dari objek-objek vernacular yang udah dikumpulin sebelumnya. Tahap berikutnya yang dilakukan adalah menganalisis visual, dilanjutkan dengan tahap berikutnya, bukan konseptual, melainkan sudah mengarah ke bentuk atau font. Tahap tersebut diharapkan proses abstraksinya bakal menghasilkan bentuk yang berpotensi untuk diaplikasikan ke huruf yang dirancang. Tahap yang terakhir merupakan alternatif perancangan huruf, langkah yang dilakukan ialah eksplorasi dalam bentuk sketsa manual. Di akhir kata, Fredella juga memberikan beberapa insight yang didapat dari proyek perancangan typeface vernacular.

Acara ini dilanjutkan dengan adanya sesi tanya jawab oleh pendengar dan narasumber. Pada kesempatan ini, para pendengar dapat berinteraksi langsung dengan narasumber, Brian dan Fredella. Dilanjutkan dengan sesi permainan dengan pertanyaan mengenai apa yang dibahas dalam webinar kali ini. 
Sebagai penutup webinar, acara ini diakhiri dengan dokumentasi para pemenang games, dan doa penutup, serta sesi dokumentasi untuk seluruh peserta, narasumber, serta moderator yang hadir di webinar kali ini.


Lihat Webinar 1 Typolog 2022:

]]>
https://typolog.uph.edu/2022/02/02/typolog-2022-webinar-1-vernacular-and-type-design/feed/ 0
Bedanya Lettering dan Calligraphy https://typolog.uph.edu/2021/11/01/bedanya-lettering-dan-calligraphy/ https://typolog.uph.edu/2021/11/01/bedanya-lettering-dan-calligraphy/#respond Mon, 01 Nov 2021 02:00:00 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2806 Tahukah kalian bahwa ada perbedaan antara Lettering dan Calligraphy? Sebelum kita masuk ke perbedaannya, mari kita definisikan apa itu Lettering dan Kaligrafi masing-masing.

Lettering seringkali digambarkan sebagai “the art of drawing letters“, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “seni menggambar huruf.” Lettering  adalah sebuah seni yang berfokus pada penggambaran huruf dengan tangan. Ilustrasi Lettering sebagian besar digambar atau dibuat sketsa dengan pensil dan digariskan dengan pena atau spidol. Tidak ada alat khusus yang diperlukan untuk mengilustrasikan huruf di Lettering.

Sumber: https://www.lettering-daily.com/types-of-lettering/

Kaligrafi mirip dengan Lettering tetapi lebih fokus pada aspek visual tulisan dan betapa indahnya tampilannya. Kaligrafi umumnya dibuat menggunakan alat tertentu, tidak seperti Lettering di mana dapat menggunakan alat apa pun yang diperlukan. Kaligrafi lebih menekankan pada tulisan daripada bentuk huruf atau letter form individu.

Sumber: https://www.howjoyful.com/calligraphy-vs-lettering/

Jadi, perbedaan utama antara Lettering dan Kaligrafi adalah lebih pada proses daripada hasil akhir karya Lettering atau Kaligrafi. Lettering lebih fokus pada ilustrasi setiap bentuk huruf sedangkan Kaligrafi lebih fokus pada visual estetika tulisan. Proses Lettering mencakup lebih banyak sketsa dan penyesuaian sedangkan Kaligrafi butuh menggunakan alat khusus dan membutuhkan penyesuaian minimal karena hanya dibuat dalam beberapa goresan.

Walaupun mirip, perbedaan dari Lettering dan Kaligrafi cukup besar kan?

Referensi

Alice, A. V. |. (2020, February 7). How to Tell the Difference Between Hand Lettering, Calligraphy and Typography. Awesome Alice. https://awesomealice.com/difference-between-hand-lettering-calligraphy/

Daily, L. (2021a, June 8). WHAT IS THE DIFFERENCE BETWEEN HAND LETTERING AND CALLIGRAPHY. Lettering Daily. https://www.lettering-daily.com/difference-between-hand-lettering-and-calligraphy/ 

Daily, L. (2021b, June 9). WHAT ARE THE LETTERING STYLES? Lettering Daily. https://www.lettering-daily.com/types-of-lettering/

Kelley, J. (2021, June 17). The difference between Calligraphy, Lettering, and Typography. HowJoyful. https://www.howjoyful.com/calligraphy-vs-lettering/

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/11/01/bedanya-lettering-dan-calligraphy/feed/ 0
Ada Apa Dengan Trajan? https://typolog.uph.edu/2021/10/29/ada-apa-dengan-trajan/ https://typolog.uph.edu/2021/10/29/ada-apa-dengan-trajan/#respond Fri, 29 Oct 2021 11:47:01 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2804

Mungkin kalian sering melihat typeface ini pada poster-poster film seperti Titanic, Titus, Game of Thrones, dan masih banyak lagi, bukan? Ya! Ini adalah Typeface Trajan yang menjadi menjadi typeface standar dalam poster film pada 25 tahun terakhir dan cocok untuk hampir semua genre film pada zaman itu. Coba tebak, sudah berapa poster film yang memakai typeface Trajan sebagai typeface utama? Jawabannya adalah sudah lebih dari 400 poster film memakai typeface Trajan. Lantas, bagaimana asal mula Typeface Trajan ini muncul?

Trajan termasuk dalam typeface Serif yang di desain oleh Carol Twomby pada 1989 yang terinspirasi oleh bentuk huruf Romawi dan dipahat pada batu. Tidak hanya pada poster film, typeface Trajan juga banyak dipakai untuk logo perusahaan, pakaian, brosur, periklanan, dan majalah, lho! Oleh karena itu, seorang sejarawan terkenal, James Mosley mengutip “Trajan is the new Helvetica.” Walaupun Trajan tidak sepopuler Helvetica, namun Trajan memiliki anatomi huruf yang membawakan suasana klasik, elegan, mudah dibaca. Typeface ini kemudian diteliti oleh Edward Caitch dan beliau membuat huruf-huruf tersebut dalam goresan kuas kaligrafi yang kemudian dipahat pada batu. Lalu, bagaimana dengan Carol Twomby? Beliau adalah orang yang mendigitalisasi Typeface Trajan pada Adobe yang dapat kalian pakai di software Adobe. 

Typeface Trajan memerlukan waktu yang lama untuk menjadi populer. Namun, bukan berarti typeface ini jarang dipakai, kan? Buktinya typeface Trajan digolongkan sebagai typeface baru dari Helvetica. 

Kalian penasaran dan ingin coba pakai typeface Trajan? Caranya mudah sekali! Kalian dapat unduh typeface Trajan di Adobe Fonts, ya. Selamat berkarya!

Referensi

Haubursin, C. (2018, June 28). How one typeface took over movie posters. Retrieved July 30, 2021, from https://www.vox.com/2018/6/28/17514024/trajan-movie-posters 

Penney, M. (2019, April 03). Type in history: Trajan. Retrieved July 30, 2021, from https://www.sessions.edu/notes-on-design/type-in-history-trajan/

Trajan font family typeface story. (n.d.). Retrieved July 30, 2021, from https://www.fonts.com/font/adobe/trajan/story

Brownlee, J. (2018, July 09). How trajan rose from the grave to become the new helvetica. Retrieved July 30, 2021, from https://www.fastcompany.com/3035488/how-trajan-rose-from-the-grave-to-become-the-new-helvetica

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/29/ada-apa-dengan-trajan/feed/ 0
Pemilihan Finalis Typolog 2021 Expanded Dimulai! https://typolog.uph.edu/2021/10/21/pemilihan-finalis-typolog-2021-expanded-dimulai/ https://typolog.uph.edu/2021/10/21/pemilihan-finalis-typolog-2021-expanded-dimulai/#respond Wed, 20 Oct 2021 21:44:40 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2774 Halo semuanya, sekarang proses pencarian finalis Typolog 2021 Expanded sudah dibuka!

Dari 10 karya yang sudah dikurasi dan seleksi, pada 20 – 27 Oktober akan dilakukan proses pemungutan suara melalui Instagram Typolog. 5 karya dengan jumlah like terbanyak akan menjadi finalis yang kemudian akan lanjut dinilai oleh panel juri.

Berikut adalah 10 karya terpilih untuk diseleksi menjadi finalis:

Create and Innovate karya Rafael Justin Rattu (UPH College)
Outside karya Ferri Gunawan (Binus University)
Expand Your Point karya Tiara Kiatama (UPH College)
Swirl of Mind karya Yogha Harisyah Putra (Politeknik Negeri Bandung)
The Expansion of Particles karya Kaylinn Venezia Kurniawan (UPH College)
What You Do Today? karya Noval Dhana Ardhani Piliang (Institut Seni Indonesia Surakarta)

Expand Your Experience karya Vanessa Tiffany Santoso (UPH College)
Expand Everything karya Akbar Esa Hakim (Universitas Dinamika)
To Expand or to Constrain karya Grace Francine Tanuwijaya (UPH College)
The Actress karya Charin Christa (Universitas Pradita)

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/21/pemilihan-finalis-typolog-2021-expanded-dimulai/feed/ 0
Oblique vs Italic https://typolog.uph.edu/2021/10/19/oblique-vs-italic/ https://typolog.uph.edu/2021/10/19/oblique-vs-italic/#respond Tue, 19 Oct 2021 02:00:00 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2745 Aku Oblique, temennya Italic!

Pasti kalian sering melihat huruf yang dimiringkan pada teks paragraf, bukan? Tetapi huruf yang dimiringkan belum tentu merupakan huruf yang di italic. Bisa jadi, huruf tersebut adalah huruf oblique. Apakah Oblique kosakata yang baru kamu dengar saat ini? Mari kita bedah secara perlahan pada artikel ini, ya!

 Posture berbicara tentang kemiringan atau orientasi vertikal dari huruf terhadap baseline-nya. Variasi typeface dengan posture tegak lurus disebut sebagai roman. Sedangkan, oblique dan italic adalah variasi typeface yang memiliki posture miring (slanted). Namun, kedua istilah ini memiliki pengertian yang berbeda yang mempengaruhi aplikasinya.

Italic merupakan desain typeface miring yang memiliki karakteristik desain yang berbeda dari variasi roman-nya. Huruf di desain ulang dengan fitur-fitur yang unik dan lebar huruf yang berbeda dari asalnya. Kebanyakan huruf italic memiliki tampilan kaligrafi, terutama pada typeface serif.

Sementara, oblique lebih sering ditemukan dalam family typeface sans serif. Oblique merupakan versi miring dari variasi roman-nya, tanpa adanya penyesuaian desain yang signifikan selain dari sudutnya. Maka, Oblique memiliki karakteristik yang lebih kaku dari italic. Beberapa typeface yang memiliki variasi oblique adalah ITC Fenice, Glypha dan Avenir.

Setelah mengetahui perbedaan antara italic dan oblique, bagaimana cara menentukan yang mana untuk digunakan? Kedua variasi miring ini umumnya digunakan sebagai penekanan (emphasis). Italic memiliki kontras yang lebih kuat bila digunakan berdampingan dengan variasi roman. Sementara, oblique mempertahankan desain asli dari typeface sehingga memiliki kontras yang lebih rendah. Alhasil, oblique memberikan penekanan atau dampak yang lebih halus. Maka, desainer harus mempertimbangan seberapa kontras yang diperlukan sebelum menentukan variasi typeface mana yang sebaiknya digunakan.


Sumber: https://creativepro.com/typetalk-italic-vs-oblique/ 

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/19/oblique-vs-italic/feed/ 0
Mengenal Pangram https://typolog.uph.edu/2021/10/15/mengenal-pangram/ https://typolog.uph.edu/2021/10/15/mengenal-pangram/#respond Fri, 15 Oct 2021 02:00:00 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2742 “The quick brown fox jumps over the lazy dog” adalah ungkapan yang sering muncul di dunia tipografi. Frasa ini adalah sebuah Pangram yang populer. Contoh pangram lainnya adalah “My girl wove six dozen plaid jackets before she quit”. Jadi apa itu Pangram dan bagaimana kalimat-kalimat tersebut Pangram? 

Pangram adalah frasa atau kalimat yang memiliki setiap alfabet dari “A” sampai “Z”. Pangram berfungsi sebagai cara untuk menampilkan tipografi atau kaligrafi agar pengguna bisa mengetahui bagaimana tampilan setiap huruf dalam sebuah kalimat dengan menggunakan typeface  tertentu. Jadi “The quick brown fox jumps over the lazy dog” adalah pangram, karena ia memiliki 26 huruf dalam frasa tersebut. 

Ini adalah sebuah contoh bagaimana pangram digunakan untuk melihat pratinjau huruf alfabet dengan menggunakan typeface “IberaReal”. Hal ini memungkinkan orang untuk mengetahui bagaimana huruf akan terlihat dalam sebuah typeface jika mereka menggunakannya dalam sebuah kalimat.

Pangram juga digunakan untuk berlatih mengetik. Pangram pertama kali digunakan pada abad ke-19, yaitu saat mesin ketik diciptakan. Mereka menggunakan Pangram “A quick brown fox jumps over the lazy dog”, karena kalimat tersebut menggunakan semua huruf dan itu memungkinkan para penulis mesin ketik untuk berlatih mengetik dan berlatih menggunakan keyboard mesin ketik.

Sekarang Pangrams tidak hanya banyak digunakan oleh desainer tetapi digunakan bagi semua orang pada umumnya ketika bekerja dengan tipografi, font, bahkan kaligrafi. Setelah membaca artikel ini, apakah kalian sudah paham mengenai pangrams?


Image Source: https://tipsmake.com/data/images/why-does-the-text-the-quick-brown-fox-jumps-over-the-lazy-dog-often-appear-when-you-install-the-font-picture-1-YgvIqKEF2.jpg

DAFTAR PUSTAKA:

M., M. (2021, January 9). Pengertian dan Sejarah Pangram, Apa itu Pangram ? Jago Desain. https://www.jagodesain.com/2018/10/pengertian-pangram.html

Rutter, R. (2014, October 30). List of pangrams. Clagnut by Richard Rutter. http://clagnut.com/blog/2380/S., S., S., S., & S. (2019, March 9). Apa itu The Quick Brown Fox Jumps Over The Lazy Dog? Saveas Brand | Blog Artikel Desain Grafis Dan Komunikasi. https://saveasbrand.com/apa-itu-the-quick-brown-fox-jumps-over-the-lazy-dog/

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/15/mengenal-pangram/feed/ 0
New Merchandise https://typolog.uph.edu/2021/10/13/new-merchandise/ https://typolog.uph.edu/2021/10/13/new-merchandise/#respond Tue, 12 Oct 2021 23:02:43 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2761 Typolog 2021 Expanded kembali dengan berbagai merchandise baru nih.

Kali ini, desain dari merchnya adalah karya-karya yang didesain dari mahasiswa-mahasiswi Desain Grafis DKV UPH dari mata kuliah Tipografi Eksperimental. Jadi, sudah pasti merchnya menarik dan asik untuk dikoleksi.

Langsung lihat dan pesan merchandise baru Typolog 2021 Expanded disini

Lihat karya-karya lain dari mahasiswa Desain Grafis DKV UPH disini.

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/13/new-merchandise/feed/ 0
Typeface Vs Font https://typolog.uph.edu/2021/10/13/typeface-vs-font/ https://typolog.uph.edu/2021/10/13/typeface-vs-font/#respond Tue, 12 Oct 2021 22:33:45 +0000 http://typolog.uph.edu/?p=2739 Di dunia tipografi, sudah sering sekali kita mendengar kata “typeface” dan “font” yang kita kenal sebagai parameter tipografi. Akan tetapi, apakah kalian tahu perbedaan dari kedua hal tersebut? Mari kita bahas perbedaannya agar kalian semua tidak bingung lagi dan dapat lebih mengerti tentang parameter tipografi!

Definisi dari typeface adalah sebuah desain dari satu set bentuk huruf, angka, dan tanda baca yang memiliki satu sifat visual yang standar dan konsisten. Sifat tersebut membentuk karakter yang tetap, meski rupa dan bentuk dimodifikasi. (Will Hill, 2005:24).

Di sisi lain, definisi dari font adalah satu set bentuk huruf dalam rupa, ukuran, dan gaya khusus berdasarkan desain typeface yang sama.

Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa typeface dan font sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Typeface adalah tampilan visual dari huruf, sementara font adalah salah satu wujud dari typeface yang memiliki gaya tertentu. Jika diibaratkan, typeface dapat dilihat sebagai kepala keluarga dari font. Misalnya Times New Roman, Garamond, Futura, Helvetica, dsb sedangkan font adalah keluarga dari typeface yang merujuk pada lebar, berat, dan gaya typeface tersebut. Misalnya, thin, light, regular, bold, italic, dsb.

Contohnya adalah typeface Helvetica. Helvetica merupakan sebuah typeface yang di dalamnya terdiri dari beberapa variasi seperti light, oblique, bold, dsb. Variasi-variasi itu yang disebut dengan font.

Typeface adalah desain yang mencakup satu set font dengan karakteristik yang berbeda-beda. Biasanya, satu typeface bisa berisikan berbagai macam variasi typeface. Nah, sekarang kalian sudah tahu perbedaan typeface dan font kan? Jadi ingat ya, typeface dan font adalah dua istilah yang berbeda! Ingat, sekarang jangan bilang “aku mau pakai font ini” tapi diubah menjadi “aku mau pakai typeface ini”


DAFTAR PUSTAKA

Tipografi: Pengertian, Parameter, Prinsip & Penjelasan Lengkap
Source: https://serupa.id/tipografi/

Apa Perbedaan Antara Font dengan Typeface, Apakah Keduanya Berbeda?
Source: https://www.indozone.id/tech/mnso9Ev/apa-perbedaan-antara-font-dengan-typeface-apakah-keduanya-berbeda/read-all

Typeface vs Font: Berbeda atau Sama, ya?Source: https://glints.com/id/lowongan/perbedaan-typeface-dan-font/#.YPsd15Mzb9E

]]>
https://typolog.uph.edu/2021/10/13/typeface-vs-font/feed/ 0