Ditulis oleh Dorothy Tanaka
Disunting oleh Helena Calista

Pada hari Jumat, 28 Januari 2022, Typolog kembali hadir dengan mengadakan webinar pertamanya di tahun 2022. Typolog ini merupakan lanjutan rangkaian kegiatan dari Typolog 2021. Pada sesi ini, kami mengundang dua narasumber yang merupakan dosen dan mahasiswi dari Universitas Pelita Harapan, yakni Brian Alvin Hananto, S.Sn., M.Ds. dan Fredella Agatha. Pada acara ini kami juga ditemani oleh kedua moderator kami Frederick Christoper dan Medelyn Aurellia.

Diawali dengan topik webinar yang pertama pada Typolog 2022, Vernacular and Type Design yang dibawakan oleh Brian dan dilanjutkan oleh Fredella. Namun, Frederick dan Medelyn, selaku moderator pada webinar 1 mengawali acara ini dengan sebuah pengertian Typolog; Typolog merupakan singkatan dari Typography Dialogue yang memiliki arti kegiatan yang bertujuan untuk membuka ruang-ruang diskusi mengenai keilmuan tipografi.

Pada webinar yang pertama ini, topik yang dibawakan oleh Brian merupakan salah satu materi, metode atau tahapan untuk merancang sebuah display typeface berdasarkan studi vernacular atau objek vernacular ditambah materi dari kelas tipografi eksperimental. Dalam pembahasan ini, Brian memperkenalkan istilah vernacular dan desain-desain vernacular, dikaitkan dengan desain huruf. 

“Mengapa vernacular dan vernacular design itu krusial bagi kita?”, merupakan pertanyaan yang dilontarkan Brian. Kata vernacular berasal dari verna atau vernaculus. Vernacular sering dipahami sebagai sesuatu yang spesifik dari sebuah daerah, kerap dianggap sebagai sesuatu yang pure tanpa ada pengaruh eksternal, dan kerap disebut sebagai idiom dari sebuah country. Brian juga menjelaskan contoh-contoh vernacular di kehidupan sehari-hari. Seperti dalam arsitektur, bangunan igloo. “Mengapa ini menjadi sesuatu yang vernacular?”,  hal ini karena dari cara dan material yang digunakan oleh orang eskimo untuk membuat igloo itu memang khas hanya dimiliki mereka.

Menurut pandangan Brian, dalam memahami vernacular, bukan fokus terhadap desain atau objek saja. Untuk bisa memahami esensi, perlu melihat materi atau objek yang dikerjain, jangan fokus terhadap yang terlihat saja. Skema berpikir yang digunakan di Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan, bahwa ketika berbicara desain, pastinya berbicara mengenai rupa, tentang konten atau makna, dan juga mempelajari mengenai lingkup atau konteks. Sebuah desain tidak akan bisa dipahami tanpa melihat konten, konten tidak bisa lepas dari konteks, dan konteks pasti akan mempengaruhi hasil desain. Maka dari itu 3 hal tersebut (bentuk, konten, konteks) saling berelasi.
Pembahasan ini kemudian dilanjutkan oleh Fredella yang merupakan mahasiswi Desain Komunikasi Visual UPH yang sedang menyelesaikan proyek tugas akhir dan skripsi di peminatan Desain Grafis. Di mana Ia akan showcase lebih detail tentang apa yang sudah dirancang. Ia menjelaskan mengapa Ia tertarik untuk mengambil tipografi vernakular sebagai topik tugas akhir dan skripsi. Fredella diberikan sebuah proyek untuk merancang satu set typeface dari A-Z. Yang kemudian dipilih adalah daerah Toraja.

Malangka merupakan salah satu showcase dari hasil akhir proyek. Fredella menjelaskan ada banyak font yang bentuknya lebih menarik, estetik, dinamik tetapi itu hanya melihat typeface tampak luar saja, tanpa tahu sebenarnya value dari typeface ada di bagian bawah, yaitu studi-studi, eksplorasi, riset-riset yang akhirnya membentuk identitas si typeface. Berbagai eksplorasi yang dilakukan Fredella membentuk typeface Malangka ini cerminan dari studi vernacular dan daerah Toraja. Dimana Toraja terletak di dataran tinggi, dan daerah tersebut mempunyai kepercayaan dimana mereka mempersepsikan struktur dewa-dewa leluhur mereka secara vertikal. Setelah mengenal Malangka, di dalam iceberg, value typeface malangka jadi lebih rich, bukan sekadar typeface-typeface yang fokus dibuat untuk kebutuhan estetis.

“Sebenarnya apa sih yang paling penting dibalik proses perancangan typeface vernacular”, tanya Fredella. Ia menjawab, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana typeface yang dirancang dapat merepresentasikan bentuk vernacular, bentuk yang khas dan yang melekat dari entitas yang dipilih. Yang dimana dalam konteks tersebut berarti typeface malangka dapat merepresentasikan bentuk vernacular dari daerah Toraja.

Fredella kemudian memutuskan untuk merancang typeface vernacular proyek perancangan Malangka dalam Pantjoran sebagai tugas akhir. Typeface Pantjoran entitas yang diambil merupakan salah satu daerah di Jakarta yaitu Pecinan Glodok. Salah satu alasan menurut Fredella yang membuat Glodok menarik ialah karena budaya tionghoa yang melekat sampai saat ini dan mempunyai bentuk akulturasi dengan budaya lokal Indonesia. Kemudian, Fredella melakukan analisis terhadap hal-hal yang khas dari Glodok, dan menggali lebih lagi dari objek-objek vernacular yang udah dikumpulin sebelumnya. Tahap berikutnya yang dilakukan adalah menganalisis visual, dilanjutkan dengan tahap berikutnya, bukan konseptual, melainkan sudah mengarah ke bentuk atau font. Tahap tersebut diharapkan proses abstraksinya bakal menghasilkan bentuk yang berpotensi untuk diaplikasikan ke huruf yang dirancang. Tahap yang terakhir merupakan alternatif perancangan huruf, langkah yang dilakukan ialah eksplorasi dalam bentuk sketsa manual. Di akhir kata, Fredella juga memberikan beberapa insight yang didapat dari proyek perancangan typeface vernacular.

Acara ini dilanjutkan dengan adanya sesi tanya jawab oleh pendengar dan narasumber. Pada kesempatan ini, para pendengar dapat berinteraksi langsung dengan narasumber, Brian dan Fredella. Dilanjutkan dengan sesi permainan dengan pertanyaan mengenai apa yang dibahas dalam webinar kali ini. 
Sebagai penutup webinar, acara ini diakhiri dengan dokumentasi para pemenang games, dan doa penutup, serta sesi dokumentasi untuk seluruh peserta, narasumber, serta moderator yang hadir di webinar kali ini.


Lihat Webinar 1 Typolog 2022:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *